Dari 4 teman-teman yang terdahulu, mungkin hanya Ferry yang bernasib baik dan banyak mendapat nilai positif dari pacaran, disamping seabrek nilai negatif yang unmentioned atau hidden. Tapi tiga lagi nggak seberuntung Ferry alias sial bin buntung!
Ini cerita terakhir tentang Aritha Mirrata Ahsani, teman ane juga, cewek dari Bogor. Nggak usah disebutlah ciri-cirinya, yang pasti semua sifat calon istri sholehah yang digambarin kanjeng Nabi ada sama dia, cantik, tajir, keluarga terhormat dan punya prinsip Agama yang lumayan. Dia temanku sejak SD, kami bersama sampai lulus SMU. Ketika aku memutuskan kuliah ke luar negeri dia meneruskan kuliahnya di salah satu PTN terkenal di Indonesia, fakultas Hukum.
Aritha memilih Iqbal sebagai tempat hatinya berlabuh. Ya Iqbal Satria yang hari ini terdaftar sebagai mahasiswa semester 5 di universitas Damascus, fakultas syariah wal qonun. Kedua-duanya teman ku sejak di Indonesia. Aku kenal baik dengan kedua-duanya, dan mungkin aku juga hafal sifat mereka.
Kisah petualangan asmara mereka mirip dengan kisah petualangan cinta Zizi, bahkan jadiannya saja sama. Cuma bedanya Iqbal masih pusing dengan posisinya saat ini. Singkat cerita, Aritha yang sudah berjanji akan setia menunggu Iqbal pulang, ditugaskan praktek di kantor kehakiman di Surabaya, so pasti Aritha akan bertemu dengan banyak orang lain yang belum pernah dia temui di Bogor. Pada awalnya hubungan mereka lancar-lancar saja, baik Aritha maupun Iqbal sama-sama setia, jadi semuanya pacaran jarak-jauh. Setelah 4 bulan magang, Aritha kembali ke kampusnya di Jakarta. Iqbal merasakan keanehan terjadi pada Aritha, melalui hubungan mereka lewat hape atau internet. Akhirnya perang salah paham sering terjadi antara mereka.
Iqbal yang sehari-hari menjadi murid kesayangan syeikh Rajab dan Dr. Douty, sering mendapat siraman rohani dan tempaan jiwa, dalam usahanya menjadi insan kamil. setiap kali duduk bersama guru-guru spiriatualnya, Iqbal merasa bersalah atas apa yang dia lakukan selama ini. Syeikh rajab selalu menasehati murid-muridnya agar tidak pacaran, kalau ada yang suka sama wanita, katakan pada beliau, beliau siap melamar si gadis dan menanggung semua biayanya. Namum Iqbal selalu merasa bersalah, karena selalu duduk manis di depan beliau dengan wajahnya yang innocent itu seakan-akan tidak ada masalah. Setiap malam Iqbal bermunajat, beristikhoroh, apakah Aritha miliknya atau bukan. Namun sudah beberapa bulan, belum ada tanda-tanda yang menunjukkan dia harus memutuskan hubungannya dengan Aritha, karena setiap malam Iqbal bermimpi bertemu Aritha, bahkan pernah sekali dia bermimpi melihat almarhum kakeknya menikahkan dia dengan Aritha, ini semakin membuat Iqbal bingun. Iqbal sekarang diantara dua jurang, tapi cepat atau lambat harus ada keputusan!.
Setiap hari tingkah laku Aritha membuat Iqbal berburuk sangka padanya, setiap kali duduk di depan gurunya Iqbal merasa bersalah, setiap malam selepas sholat istikhoroh hati Iqbal semakin sulit melepaskan Aritha. Iqbal tahu, Aritha tidak mungkin berkhianat, Iqbal juga merasa keadaan seperti ini tidak mungkin akan bisa berlangsung lebih lama, harus ada keputusan segera. Ada dua pilihan bagi Iqbal, menikah atau putus dan melupakan masa lalu itu, sedangkan untuk melanjutkan pacaran tidak menjadi pilihannya. Kalau harus menikah, kayaknya agak berat, disamping sama-sama masih kuliah, orang tua mereka juga belum tentu setuju. Sedangkan resiko putus belum bisa dibayangkan Iqbal.
Akhirnya Iqbal memutuskan untuk break up dengan Aritha, sebuah keputusan yang pahit, Aritha yang tidak tahu alasan Iqbal bagai terkena badai gurun pasir di musim panas yang menenggelamkan. Aritha sempat masuk RS dua minggu. Sedangkan Iqbal merasa menyesali keputusannya, dan ingin rasanya menarik dan menganggap kata-kata “putus” itu tidak pernah terucap. Namu apa hendak dikata, nasi telah jadi bubur….tapi sebenarnya bubur kalau dikasih ayam kan bisa jadi bubur ayam, jauh lebih enak dari nasi biasa, jadi nggak ada istilah menyesal atas sebuah keputusan.
Sudah dua bulan break up, Iqbal belum bisa melupakan indah nya hari-hari bersama Aritha. waktu ane di pondok dulu, ada ustad yang ngasih tips biar hati, jiwa dan raga bisa kembali ke pondok secara lengkap setelah liburan, “ Jangan pernah meninggalkan kenangan indah bersama yayangmu sebelum kembali ke pondok, nanti kamu susah melupakan dia, tinggalkanlah kenangan terakhir yang pahit yang membuat kamu bisa melupakan dia dengan mudah, liburan tahun depan cari cewek baru…kalau nggak mau, ya jangan pacaran, emang tanpa pacar bisa mati! wong kamu dulu juga lahir sendirian, ntar mati juga sendirian, dunia nggak bakalan kiamat kalau nggak punya pacar!….”.
Iqbal merasakan cintanya telah pergi dari Aritha, tapi ….“ Cinta sejati, cinta yang ketika kita kira sudah pergi, ternyata hanya bersembunyi, menunggu saatnya kembali lagi…..”.
Iqbal memberanikan diri kembali kepada Aritha dengan ribuan maaf, namun Aritha selama ditinggal oleh Iqbal ternyata dekat dengan seorang ustazah, jebolan pesantren Mantingan 1, Ngawi. yang tidak lain kakak kelasnya di kampus, seorang mahasiswi Psikologi Islam yang lagi merampunkan skripsinya. Dari ustazah itu Aritha banyak belajar tentang arti hidup dan cinta. Ternyata ustazah itu selain pintar agama, dia juga banyak tahu tentang kehidupan “cinta” dan “pacaran”, meskipun dia tidak pernah berpengalaman pacaran. Dan ternyata ustazah itu tempat mahasiswi-mahasiswi kampus itu curhat, dia memiliki blog khusus konsultasi mahasiswi, Dari sana ustazah itu belajar.
Otomatis tawaran Iqbal ditolak mentah-mentah oleh Aritha, bahkan Iqbal mendapat ceramah dari Aritha tentang akhlaq dan cara bergaul yang benar sesuai dangan tuntunan agama. Iqbal sebagai mahasiswa syariah merasa malu, tapi ceramah dan perubahan itu benar-benar membuat Iqbal merasa semakin berharganya Aritha, benar-benar Aritha wanita idaman, yang diyakini Iqbal bakalan bisa menemaninya menjalani sisa hidup untuk beribadah pada Tuhan. Bukannya Iqbal sadar atas kealpaanya,dan bertaubat, tapi malah semakin hari dia semakin tidak bisa melupakan Aritha, setiap hari dia memuja Aritha, kalau kata orang “There’s nothing perfect in the world”, namun menurut Iqbal Aritha adalah “The perfectness of God’s creature”, meskipun tidak ada yang sempurna, namun dalam diri Aritha ada kesempurnaan ciptaan Tuhan.
Iqbal benar-benar gila, dia telah lupa bahwa dirinya itu calon da’i dan pembawa panji-panji Agama yang suatu saat diharapkan menjadi solusi bagi semua masalah bangsa. Iqbal tidak akan bisa mencapai itu semua, selama dia belum bisa merubah keadaan dirinya hari ini yang terpuruk oleh kefanaan cinta kepada makhluk. Benar kata orang yang duduk di sampingku di bus kemarin, “Gimana kamu mau merubah umat, kalau kamu belum bisa merubah dirimu sendiri!”.
Hari ini Iqbal masih pusing memikirkan taktik mendapatkan kembali Aritha, namun Aritha hari ini bukanlah Aritha yang dulu yang ketika diputus pacarnya masuk RS dua minggu. Hari ini Aritha seorang wanita yang mengetahui dirinya adalah calon sekolah bagi generasi masa depan, pendidik dan tiang Agama dan Negara.
Sebenarnya, ketika aku melihat keadaan Iqbal yang menyedihkan itu, aku pernah menghubungi Aritha, dan Aritha mengatakan padaku bahwa dia masih mencintai Iqbal, dan akan terus menunggu sampai Iqbal pulang, namun dia hanya mengharapkan kesabaran Iqbal menunggu saat itu. Aritha juga sadar bahwa zaman seperti ini susah mencari cowok yang bisa dijadikan panutan seperti Iqbal, di mata Aritha, Iqbal itu seperti Aritha di mata Iqbal, penuh dengan kesempurnaan. Ini cobaan dan ujian bagi Iqbal, Cuma Iqbal tidak sadar, bahkan aku pernah mengingatkan Iqbal akan hal itu.
Kita lihat saja akhir petualangan mereka. Ingat…..sesuatu yang kita anggap indah, tapi itu dilarang Tuhan, yakinlah Tuhan akan menggantikan dengan hal yang lebih indah dari itu dalam keadaan halal.
DIarsipkan di bawah: Artikel | Ditandai: cerita pacaran, cerpen islam, indah dan ngerinya pacaran, pacaran, pacaran islami

Crita ini sngad-sangad bsa , ngajarin ak .
Tuk tahu apa itu artinya cinta.