Ramadhan Pertama di Damascus
“Allahu akbar..Allahu akbar…” suara adzan ashar terdengar nyaring dan serentak di seluruh menara masjid kota Damascus. Jalan yang ramai dengan manusia yang berlalu-lalang menghiasi aktivitas mereka yang tidak terhenti meskipun bulan ramdhan, ya, bulan ramadhan. Ada yang sibuk menjajakan tasbih, peci, ada juga yang menjajakan makanan buat buka, tapi di toko jewelry dan fashion kaum hawa lebih mendominasi, kata orang memang cewek itu sukanya shopping, nggak ada Mall suuq muhyiddin[1] juga jadi, yang penting shopping! Apa memang itu tabiat mereka? Padahal kalau menetap di rumah mereka memakai pakaian dan make up yang biasa saja, mereka Cuma berdandan ketika keluar rumah. Kadang-kadang aku bertanya dalam hati kecilku, buat apa mereka mempercantik diri? Untuk siapa mereka berdandan? Kalau mereka mempercantik diri demi dilihat orang, apa bedanya mereka dengan topeng monyet? Kalau mereka berdandan supaya orang akan kagum dengannya, maka apa bedanya mereka dengan badut-badut di taman-taman?
Aku duduk di depan warnet menunggu Arifin, kita janji mau shalat ashar dimasjid Nabilsi, dan setelah itu pergi ke Baromkeh, ya tepatnya ke toko buku Daar el-Fikr. Sambil menungu Arifin, aku ditemani suara adzan yang indah, mengajak manusia meninggalkan sejenak aktivitas dunia untuk bernostalgia sesaat dengan Maha Pencipta, mengingat dan mensyukuri apa yang telah dianugerahiNya hari ini, dan so pasti itu juga waktu untuk sejenak beristirahat dan merefresh tired-brain, tapi bagiku, moment ini adalah saatnya untuk berdemo dan curhat pada Allah setelah 4 jam yang lalu aku telah berdemo, hanya Allah lah tempat berdemo dan curhat yang paling efisien. Kadang-kadang aku juga berfikir, kenapa manusia yang serba kekurangan tidak pernah mau mengakui kekurangannya itu?
Setelah sholat ashar, kami berangkat ke Baromkeh, tujuan utama Daar el-Fikr. Sore memang jadi pemandangan indah bagi yang ingin menikmati hiruk-pikuk dan indahnya suasana kota Damascus, dan ini sangat enak dinikmati sambil jalan-jalan sekitar jisr rois, ke masjid umawy dan universitas Damascus. Memang pantas kalau di katakan Damascus ibu kota tertua, karena memang dihuni secara terus-menerus sejak tahun 2000 sm, mungkin 7 abad yang lalu Ibnu Taimiyyah, Ibnu Asakir, Imam Nawawy, Ibnu Katsir, dan Ibnu Qayyim juga suka berdiri disini sambil hafal Quran dan menulis ilmu di lembaran-lembaran kertas, tapi hari ini setelah 7 abad, aku bisa berdiri di sana, meskipun bukan dengan perbuatan yang sama seperti yang mereka lakukan, tapi aku bangga, bisa mengunjungi dan bersilaturahim dengan beliau semua. Kalau teman ku yang satu ini, hobby nya emang meneliti sejarah, kuburan ulama dan orang yang namanya tercantum dalam buku-buku sejarah. Padahal dia kuliahnya fakultas Hukum. Awalnya aku suka ngejek dia, kataku ” Rif, ngapain sih nte setiap ke toko buku doyannya buku-buku jaman dulu? Kalo nggak pasti tentang kuburan, kalo jalan-jalan pasti Tanya-tanya tentang kuburan? Hobi yang aneh…but too excited”
Suatu ketika aku diajak dia kesuatu tempat, katanya ” Ayo Boy, nggak jauh, Cuma di belakang kantor rektor universitas Damascus, I wanna show you something You was curious long before…”. Aku ikut, emang tempat itu belum pernah aku datangi, pikiran mau kesitu saja nggak pernah? Tau nggak apa yang aku lihat disana? Tiga buah nisan tua, nggak terurus, salah satunya dipagari besi setengah badanku, nisan yang ditumbuhi rumput dan pohon agak lumayan besar, namun tak terawat!
” Kuburan siapa Rif? Kok ada kuburan ya dibelakang kantor ini ya?”
” Makanya…jangan maunya baca buku orang doang! Ingat juga sekali-kali sama pengarangnya, ini kuburan Imam Ibnu Taimiyyah, sama Ibnu Katsir, satunya lagi nggak tau.”
“???????????…..”
“Allahu akbar!!!! Ibnu Taimiyyah ulama salaf yang katanya penuh dengan ide-ide kontroversial? Pemilik kitab “Fatawa ibnu taimiyyah” 35 jilid itu? belum ada sampai hari ini yang mengarang kitab sampai 35 jilid, ada ensiklopedia hukum Islam, Cuma 34 jilid, itu juga hasil keroyokan, bukan karangan 1 orang, tapi satu kelompok ulama. Baru ada yang memulai menulis seperti itu, yaitu Dr.Hasan Hitto, ulama Suriah yang tinggal di Jerman, beliau juga baru membuka pondok di Bogor. Beliau menulis kitab “Ensiklopedia Fiqh Syafii” tapi belum selesai, baru bab Ibadah, tapi sudah sampai 60 jilid, ini benar-benar ensiklopedia. Ibnu Taimiyyah juga Pemilik ratusan karya ilmiah klasik tentang khazanah Iislamyyah, dari fiqh sampai kedokteran, Kuburannya disini? nggak terurus begini? Ibnu Katsir pemilik kitab tafsir “Ibnu Katsir” yang jadi rujukan bagi tafsir bil ma’tsur no 2 sampai sekarang kalau nomor 1 ibnu jarir thobari, kuburannya disini?..kok bisa ya Rif?”
” Mboh…Ora ngerti! Ayo cabut…”
Sejak itu aku jadi senang sama hobby dia, setiap ketemu dia di kampus, aku pasti Tanya tentang penemuan kuburan baru. Sampai suatu ketika dia bilang kalau makamnya nabi Zulkifli dekat tempat kos ku, aku terkejut sekali, padahal sudah 1 tahun aku ngekos di rumah itu, tapi aku belum pernah ke makam Nabi Zulkifli!!!!
Kali ini, ketika sampai di toko buku Daar el-Fikr, dia agak aneh, kok bukan menuju rak sejarah, malah rak bahasa yang disamperin, rak yang biasanya aku temenin sampai berjam-jam. ya…aku kan kuliah jurusan Hukum sama sastra Arab, jadi it’s ok!. Nah kalo dia ngapaen ya kira-kira???
” Rif ngapain nte disini? Bukan nya pojok sana markas nte?” kataku sambil menunjuk rak sejarah di pojokan ruangan.
” Lagi nyari kitab nahwu ni, kemarin ane ke kuburan Ibnu Malik, pengarang kitab Alfiah. Ane mau lihat kitab aslinya, suka!”
1 jam nggak terasa sudah lewat, kami cabut, aku diajak ke toko buku lama, Maktabah An-Nur , katanya di sana banyak buku-buku lama, bahkan buku-buku yang dilarang pemerintah dan telah dicabut hak edarnya ada disana! Toko buku aneh bin bandel!
Aku seneng sama buku-buku aneh, apalagi buku yang dilarang, karena aku tau, pasti ada apa-apanya di buku itu makanya dilarang…..tapi jam sudah menunjukkan 18.30, 20 menit lagi buka. Akhirnya nggak jadi ke maktabah An-Nur. Kita balik ke jisr rois nunggu angkot syeh muhyiddin ato syeh kholid. Sampai ke jisr rois…sunyi…jangankan angkot taksi aja nggak ada! Pedestrian juga kayaknya Cuma kami berdua! Kemana ya orang –orang?….
” Lho piye iki? kok nggak ada orang satu pun?how can it be? Buka di mana kita Boy?”, aku sendiri heran sama anak ini, padahal asalnya dari jawa, pelosok lagi, tapi sok-sok ngomong bahasa Inggris, padahal dia sudah dua bulan ini ikut kursus bahasa perancis di markas tsaqofi faransi, dekat Bahsoh.
” Iya man, ane lupa, kata mas zainul habis ashar jangan pergi jauh-jauh, karena setengah jam sebelum buka, orang-orang disini sudah pada di rumah sama keluarganya, siap-siap buka, but don’t worry man, kan masjid umawy Cuma 15 menit jalan kaki? Ayo..!
Masjid umawy adalah masjid yang penuh sejarah, pada awalnya bangunan ini dibangun zaman romawi kuno, sebagai tempat penyembahan dewa Jupiter. Dibangun sebagai masjid oleh walid bin abdul malik, antara tahun 88-96 h/707-714 m, Sejak Damascus jadi wilayah Islam bangunan ini dijadikan setengah masjid dan setengah lagi gereja. Lihatlah bagaimana kerukunan antar umat beragama di bawah daulah Islamyyah? Namun kemudian karena umat Islam makin banyak, akhirnya dengan kesepakatan antara umat Islam dan Kristen, semua gereja dibangun dan dipusatkan di Bab tuma, dan umawy menjadi masjid semua. Sampai saat ini kita bisa melihat kerukunan umat beragama di sana, sampai hari ini Bab tuma merupakan tempat bagi komunitas Kristen. Kalau jalan-jalan ke sana terasa banget kristennya , baik dari lingkugan sampai penduduknya.
Sebuah kerukunan yang indah. Pernah dulu ketika ekspansi perancis masuk Damascus, sebelum daulah Turki Utsmani runtuh di tangan Yahudi, Perancis mengirim pastor-pastor untuk mengadu antara umat Islam dan umat Kristen yang sudah hidup berdampingan 13 abad agar berperang, mereka mengatakan pada umat Kristen bahwa ini adalah perang salib, jadi penduduk syiria yang Kristen harus membantu Inggris dan Perancis. Konspirasi tersebut diketahui oleh pejuang Islam di Damascus, yang dipimpin oleh Al-Muhaddist Al-Akbar Syeh Badruddin Al-Hasany. Beliau berkata ” Kalian semua saudara kami!!” akhirnya beliau bisa menenangkan umat Kristen, tak lama kemudian, tepatnya 17 syabaat 1927, paus di Roma mengirim surat yang diantarkan Monsier Ibrahim Masky berisi ucapan Terima Kasih kepada Syeh Badruddin Al-Hasany atas kebaikan beliau menjaga umat Kristen di Syiria dan tidak menyakiti mereka.
10 menit aku sudah berada di ujung pasa hamidiyeh, tinggal beberapa puluh meter saja pintu gerbang masjid besar itu di depanku. Suasana terasa lain ketika sampai di masjid umawy, ratusan atau bahkan ribuan orang sudah berkumpul di teras masjid siap berbuka, ada sekitar tujuh barisan orang duduk saling berhadapan memanjang sepanjang halaman masjid itu, yang kira-kira dua ratus meter. Sekumpulan manusia yang siap merasakan salah satu nikmat nikmat Tuhan yang dijanjikan bagi hamba-Nya yang berpuasa, yaitu nikmat ketika berbuka dan nikmat ketika bertemu dengan-Nya di hari akhir nanti.
Tanpa pikir panjang, dalam satu menit aku dan arifin sudah berada dalam barisan manusia itu. Kebiasaan memberikan bukaan bagi orang yang berpuasa di kota kuno ini tidak hanya terjadi di masjid-masjid saja, bahkan kita bisa mendapatkan kupon-kupon gratis yang dibagikan di masjid-masjid untuk makan di restoran-restoran pilihan di kota Damascus, semuanya hanya ada pada bulan ramadhan.
Ketika adzan berkumandang semuanya memulai dengan ta’jilan, dan selanjutnya sholat maghrib bersama di masjid di mana khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah menjadi imam sholat dan Imam Izza Abdussalam pernah menjadi khatib jumat beberapa abad yang lalu. Selepas sholat, kita baru makan.
“Boy, mau sholat tarawih di sini atau di masjid Bouty?” kata arifin sambil meneguk gelas tamar hindi[2] dingin yang begitu menyegarkan ketika berbuka.
“Di masjid Bouty aja ya, kapan-kapan lah kita sholat di sini.” Jawabku. Aku memang senang sekali sholat di sana, karena yang menjadi imam Dr. Bouty sendiri, apalagi sholat jumat, beliau juga sebgai khatibnya, sungguh mengagumkan. Allah memberikan beliau banyak kelebihan, baik kemampuan menarik masa dalam orasi maupun kemampuan menyihir pembaca dengan tulisan beliau. Bisa mengenal beliau, bisa hadir setiap pengajian beliau, bisa memahami cara berfikir beliau, bisa mengikuti istiqomah beliau, bisa meneladani keberanian beliau dalam membela kenenaran merupakan sebuah keberuntungan yang luar biasa dan anugerah Tuhan yang butuh ribuan kesyukuran.
[1]. Pasar muhyiddin, salah satu pasar tradisional di dekat kampus institut Kaftaro, Damascus.
[2]. Jus asam jawa.
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Ditandai: Cerpen, cerpen islam, damascus, fakultas hukum, Ibnu Asakir, Ibnu Katsir, Ibnu Qayyim, Ibnu Taimiyyah, Imam Nawawy, islam, ramadhan

bagus sangatlah ceritanya…awak sukakan sangat…visit mine ya?